BEM Unila : Rektor Untuk Unila Bukan Rektor Untuk Kemenristekdikti

58
Lima Bakal Calon Rektor Unila bergandengan tangan usai menandatangi tuntutan mahasiswa, Jum'at (30/8)

POTRETPENDIDIKAN.COM – Lima orang Bakal Calon Rektor Unila tanda tangani tuntutan Gerakan Mahasiswa Kawal Pilrek Unila di Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung dalam pemaparan visi, misi dan program kerja bakal calon rektor Unila tahun 2019-2023, Jum’at (30/8).

Gerakan Mahasiswa Kawal Pilrek Unila melangsungkan aksi nonton bareng di gedung rektorat Universitas Lampung dalam acara penyampaian visi, misi dan program kerja bakal calon rektor Unila tahun 2019-2023. Aksi nonton bareng ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Kawal Pemilihan Rektor Universitas Lampung yang berasal dari BEM Universitas, BEM-BEM Fakultas, lembaga kemahasiswaan, himpunan mahasiswa jurusan dan juga UKM-UKM di Universitas Lampung.

Aksi nonton bareng ini diawali dengan prosesi doa bersama dan menyanyikan lagu Indonesia raya yang berlangsung pada pukul 08.20 WIB. Lalu dilanjutkan dengan aksi longmarch dari Graha Kemahasiswaan Universitas Lampung dan tiba di GSG Unversitas Lampung pada pukul 08.53 WIB.

Aksi ini diramaikan oleh orasi-orasi yang disampaikan oleh perwakilan lembaga kemahasiswaaan yang tergabung dalam aksi nonton bareng. Pada pukul 09.10 WIB perwakilan ketua lembaga kemahasiswaan dipersilahkan mengikuti pemaparan visi, misi dan program kerja bakal calon rektor di dalam GSG Universitas Lampung.

Fajar Agung Pangestu selaku Jenderal Gerakan Mahasiswa Kawal Pilrek Unila menyampaikan bahwa “Mahasiswa berharap bakal calon rektor Universitas Lampung bersedia menemui mahasiswa untuk mendengar aspirasi mahasiswa yang berada diluar GSG Universitas Lampung”.

Pemaparan visi misi dan program kerja bakal calon rektor Unila selesai pada pukul 10.30 WIB. Dan pada pukul 11.00 Bakal calon rektor Universitas Lampung tahun 2019-2023 menemui mahasiwa dan mengabulkan tuntutan yang dibawa oleh mahasiswa. Tuntutan tersebut meliputi :
1. Mengabaikan 35% suara kemenristekdikti dan mengedepankan 65% suara senat dalam proses pemilihan rektor Universitas Lampung.

2. Menolak segala bentuk politik transaksional dalam proses pemilihan rector Universitas Lampung.

3. Bersedia mengundurkan diri apabila terbukti melakukan politik transaksional dalam proses pemilihan rektor Universitas Lampung.

4. Bersedia untuk tidak dilantik apabila terbukti melakukan politik transaksional dalam proses pemilihan rektor Universitas Lampung.

5. Bersedia hadir pada tanggal 10 september 2019 untuk berdialog secara terbuka dengan seluruh mahasiswa Universitas Lampung.

“Dengan disepakatinya tuntutan di atas maka bakal calon rektor siap mewujudkan Pilrek Unila yang menghasilkan rektornya Unila bukan rektornya Kemenristekdikti”, pungkas Fajar. (RF/PP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here