Disdikbud Lampung Deklarasi Eco-Office di SMA Negeri 9 Bandar Lampung

74
Kepala Disdikbud Lampung bersama kepala sekolah dan seluruh staff juga siswa SMAN 9 Bandar Lampung, hari ini mendeklarasikan Eco-Office, Jumat (4/10). Foto: Kupastuntas

POTRETPENDIDIKAN.COM, Bandar Lampung – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung bergerak cepat dalam melakukan sosialisasi program kantor ramah lingkungan (Eco-Office).

Usai melakukan deklarasi Eco-Office di halaman kantor Disdikbud Lampung, Rabu (2/10) lalu, kini Kepala Disdikbud Sulpakar keliling ke sekolah-sekolah mengkampanyekan pengurangan sampah dari plastik dan kaleng.

Hari ini, Jum’at (4/10), Sulpakar deklarasi Eco-Office di SMAN 9 Bandarlampung. Sebelum melakukan deklarasi Eco-Office dan penggunaan Thumbler, Sulpakar bersama Kepala SMAN 9 Bandarlampung Suharto, para guru, staff dan siswa melakukan senam pagi.

Sulpakar mengatakan, Deklarasi Eco Office sebagai tindak lanjut Surat Edaran (SE) Gubernur Lampung Tentang mengurangi sampah plastik.

Ia mengatakan, deklarasi mengurangi sampah yang sulit terurai sebagai salah satu program Pemerintah Provinsi Lampung. “Untuk mengurangi sampah yang sulit terurai, Disdikbud Lampung mendeklarasikan penggunaan botol minuman (thumbler) yang dapat diisi ulang,” ujar Sulpakar

Menurut Sulpakar, sampah plastik sebagai salah satu masalah bersama yang dapat mengganggu lingkungan hidup, karena dalam penguraiannya membutuhkan waktu yang lama.

“Kami sangat mendukung, dengan adanya surat edaran Bapak Gubernur Lampung, sehingga ditindaklanjuti sampai ke peserta didik, karena sebagai salah satu penentu keberhasilan program Lampung bebas sampah plastik,” terang Sulpakar.

Kepala SMA Negeri 9 Bandar Lampung Suharto mengungkapkan dalam penerapan program tersebut pihaknya akan melibatkan seluruh lingkungan sekolah.

“Kita akan melibatkan siswa untuk bisa mengurangi penggunaan plastik, listrik, air dan pengelolaan sampah dengan bijak,” ujar Suharto.

Dalam menerapkan konsep tersebut pihaknya menyediakan dispenser di setiap kelas dan setiap ruang guru. Total ada 33 kelas, ruang guru, tata usaha, perpustakaan, dan UKS. Perencanaan itu juga didukung dengan imbauan kepada semua siswa agar membawa botol minum sendiri. “Itu dilakukan untuk mengurangi penggunaan kemasan air minum sekali pakai,” jelasnya.

Selain itu pihaknya juga akan melakukan imbauan kepada pedagang di lingkungan sekolah. Pihaknya akan menertibkan pedagang agar tak menjual minuman kemasan plastik.

Suharto mengungkapkan program yang dicanangkan Pemprov Lampung tersebut sejalan dengan program yang dijalankan sekolah. Ia mengatakan SMAN 9 Bandar Lampung sempat meraih penghargaan nasional dari Toyota Motor Astra Indonesia kategori sekolah hijau. Penghargaan itu diraih pada tahun 2008.

“Program ini sekaligus menjadi payung hukum bagi kami dalam menerapkan echo campus,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here