ESSAY | Hidup di Zaman Algoritma

56

POTRETPENDIDIKAN.COM – Sadar tidak bahwa kita tengah ada di era algoritma? Banyak ulasan tentang ini. Banyak buku kita temukan. Memang tema utamanya ialah soal kecerdasan buatanartificial intelligence (AI). AI meniscayakan komputer dan kode-kode pemogramannya.

Ketika ke perangkat kerasnya disuntikkan perangkat lunaknya, program-programnya, kode-kodenya, komputer tersulap mesin pintar. Di sinilah peran penting algoritma.

Ed Finn dalam What Algorithms Want: Imagination in the Age of Computing (Cambridge: MIT Press, 2017) menjelaskan betapa mendasarnya algoritma dalam rusan zaman kita. Algoritma ialah “kata lama telah menjadi baru lagi”.

Finn mengulas panjang lebar, tetapi intinya “algoritma ada di mana-mana”, mendominasi pasar saham, menggubah musik, mengendarai mobil, menulis artikel berita, apapun. Sejak “akhir tahun 2000-an, hubungan kita dengan komputer berubah. Kita mulai membawa peranti di saku kita, mengintipnya di meja makan, bergumam pelan di sudut. Kita berhenti memikirkan perangkat keras dan mulai memikirkan aplikasi dan layanan.”

Kita tidak hanya menggunakan tetapi “mempercayai sistem komputasi yang memberi tahu kita ke mana harus pergi”, bertemu dengan siapa, dan apapun, hanya dengan mengklik ponsel kita. “Entah diabaikan atau apa, algoritma jarang dianggap serius sebagai istilah kunci”.

The End of Thinking

Christian Madsbjerg dalam Sensemaking: The Power of the Humanities in the Age of the Algorithm (New York: Hachette Books, 2017), mengingatkan, “Hari ini kita sangat fokus pada pengetahuan berbasis STEM — teori-teori dari sains (science), teknologi (technology), teknik (engineering) dan matematika (math), dan abstraksi mahadata (big data)”.

Inilah zaman, sebagaimana diilustrasikan Madsbjerg, “the end of thinking”, ketika AI telah menyelesaikan semuanya. Tapi, AI punya keterbatasan. AI tak seunik manusia. Mengutip fisikawan populer Neil deGrasse Tyson, kita diingatkan, “Dalam sains, ketika perilaku manusia memasuki persamaan (equation), segala sesuatu menjadi tidak linier. Itu sebabnya fisika mudah dan sosiologi sulit.”

Karenanya, Madsbjerg mencatat, tak masalah seberapa banyak data kasar yang kita miliki, berapa banyak pemindaian otak yang kita pantau, atau berapa banyak cara membagi pasar, manakala kita punya perspektif tentang perilaku manusia. Tanpa itu, kita tidak dapat “benar-benar memahami dunia kita”.

Beda manusia dan mesin, antara lain terletak pada apa yang pernah disitir George Orwell. “Inti dari menjadi manusia ialah bahwa seseorang tidak mencari kesempurnaan.” Manusia, dalam konteks ini, tak lebih sempurna ketimbang mesin. Betapa irasional atau tidak efisiennya manusia, jika dibandingkan mesin. Beda dengan “rekan-rekan komputer kita”, otak kita lamban dan terbebani emosi.

Di dunia kerja, catat Madsbjerg, manusia adalah keranjang, memperlambat proyek dan mengubah garis hitam putih menjadi abu-abu, tanda gemar ambiguitas dan kompleksitas. Kita tak memiliki “ketepatan, ketelitian, atau konsistensi yang sama dengan algoritma”. Bisa dpahami, manakala dalam dunia kerja sekarang berlaku “mantra untuk memaafkan diri kita dari ketidakmampuan”, yakni “aku hanya manusia”, menjadi manusia berarti penuh dengan kekurangan.

Dalam SensemakingMadsbjerg sesungguhnya sekadar hendak menjelaskan bahwa justru faktor manusia itu lebih penting ketimbang mesin pintar, AI. Justru manusia punya perasaan, emosi. Apa itu “sensemaking”? Ia metode kebijaksanaan praktis yang didasarkan humaniora. Kemampuan merasa, memicu empati, ialah “kebalikan dari pemikiran algoritmik”. Pemikiran algoritmik bisa berkembang luas — memproses triliunan data terabyte per detik — tetapi itu hanya proses pembacaan.

Justru karena manusia beda dengan robot. Manusia dilahirkan, robot dibuat. Maka, manusia punya kreativitas, punya moralitas — hal-hal yang tak ada dalam mesin pintar apapun. Sehingga, isu ini mengemuka sebagai tema, misalnya yang ditulis Derek Leben, Ethics for RobotsHow to Design a Moral Algorithm (London dan New York: Routledge, 2019). Masalahnya, tentu dalam hal ini, terletak terutama pada bagaimana merawat moral pemrogram dan penggunanya, bukan robotnya.

Apa Itu Zaman Algoritma?

Tetapi, apa itu zaman algoritma? Sudah dijelaskan di atas. Kita “tak bisa hidup” sekarang, tanpa bantuan mesin pintar, tanpa ponsel. Atas hal ini, kita lazim bercanda, “Kalau istri tertinggal di rumah, tak masalah! Kalau ponsel yang tertinggal, separuh nyawa hilang!”

Mesin pintar tak bisa pintar tanpa sistem algoritmik pemrogramannya. Tak ada pembahasan tentang AI, tanpa mengulas kehebatan algoritma. Mahadata (big data) hanyalah tumpukan data yang amat sangat banyak di jagat daring digital, manakala tak diolah untuk tujuan tertentu dengan rumus-rumus algoritma yang rumit.

Namun, seolah ada bab yang hilang dari penjelasan soal penting dan mendasarnya algoritma ini. Jarang ada yang menjelaskan latarbelakang sejarah, tentang algoritma itu sendiri. Mengapa disebut algoritma? Jarang ada yang menariknya ke etimologinya, sejarah katanya, pun sejarah panjang matematika yang berkembang sebelum abad dunia Barat.

David Berlinski, dalam The Advent of the Algorithm: The Idea That Rules The World (New York: Harcourt, inc., 2000) mengaris-bawahi “dua gagasan terbentang gemerlap di atas beludru”: yang pertama adalah kalkulus, yang kedua, algoritma. Kalkulus ialah gagasan yang memungkinkan sains modern menjadi mungkin. Algoritma ialah gagasan tentang prosedur yang efektif yang memungkinkan dunia modern menjadi mungkin.

Algoritma selalu bersanding dengan perkomputeran. Sekarang, jutaan orang kehidupannya secara teratur diubah, diperkaya, dan diatur oleh komputer. Di sini ada kisah pencarian dan akhirnya penemuan algoritma, serangkaian instruksi yang menggerakkan komputer.

Bahkan, Pedro Domingos dalam The Master Algorithm: How the Quest for the Ultimate Learning  Machine Will Remake Our World (New York: Basic Books, 2015) mengajukan tesis: “Semua pengetahuan — masa lalu, sekarang, dan masa depan — dapat diturunkan dari data dengan satu algoritma pembelajaran universal”.

Betapapun mengulas panjang lebar tentang algoritma yang ajaib itu, Berlinski hanya berhenti pada “ahli logika dan ahli matematika yang bekerja sendiri dan dalam ketidakjelasan selama paruh pertama abad kedua puluh”. Nama-nama yang disbut Leibniz, Godel, Hilbert, Turing, dan yang lain.

Semua Bermuara pada Al-Khwarizmi

Tak banyak buku yang menjelaskan bahwa semua itu bemuara pada Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi. Sang peletak dasar aljabar, kalkulus, algoritma ini, tenggelam dalam euforia para ilmuwan yang jor-joran menjelaskan betapa mendasarnya algoritma untuk zaman kita dan ke depan. Kalaupun ada yang mengulasnya, menyebut Al-Khwarizmi sebagai sekadar peletak dasar algoritma klasik. Seolah algoritma modern, tak berkaitan dengan yang klasik, kendali yang modern pengembangan dari yang klasik.

Kalau hendak mengabaikan, atau risi dengan sebutan algoritma sebab berpotensi dikaitkan dengan al-Khwarizmi, kenapa istilan algoritma tak diganti saja? Gantilah nama penemu komputer, misalnya sehingga rekam jejak al-Khwarizmi benar-benar hilang, tak terlacak oleh AI. Dan lantas, ramaikan saja bahwa memang AI tak ada hubungannya dengan al-Khwarizmi.

Saya berbaik sangka bahwa memang para penulis sekadar suka mengulas era modern. Misalnya, M.D. Atkinson dalam tulisannya, “The Complexity of Algorithms” dalam Ian Wand dan Robin Milner, Computing Tomorrow Future Research Directions in Computer Science(Cambridge: Cambridge University Press, 1996) sekadar menegaskan bahwa “teori algoritma modern berasal dari akhir 1960-an ketika metode pengukuran waktu eksekusi asimptotik mulai digunakan.” Dari sisi ini memang benar, dan barangkali dia tidak perlu menariknya ke belakang.

Tapi, tak mengapa. Di zaman serba-terbuka ini, orang akan tetap tahu bahwa algoritma itu al-Khwarizmi. Lidah orang Barat sudah biasa berbeda. Ibnu Sina menjadi Avicenna, Avveroes untuk Ibnu Rush dan sebagainya. Peradaban Islam masa keemasannya, ketika sains dan matematika berkembang pesat, yang lantas terjadi transfer ilmu ke Barat, silakan dilupakan, diabaikan. Tapi, fakta sejarah tetap akan ada.

Periksalah misalnya, Ehsan Masood, Science and Islam: A History (London:  Icon Books, 2009). Salah satu kontribusi terbesar al-Khwarizmi ialah memberikan panduan komprehensif untuk sistem angka yang berasal di India, yang lantas disebut sebagai angka Arab yang kelak dipakai sebagai angka modern kita hari ini. Sistem ini menggunakan sepuluh digit dari 0 hingga 9. Lebih sederhana ketimbang angka romawi.

Seiring dengan angka-angka, catat Masood, bahasa Inggris juga mendapatkan kata “algorithm” untuk proses matematika langkah-demi-langkah yang logis. Algortihm berdasarkan ejaan nama al-Khwarizmi dalam judul Latin bukunya, Algoritmi de numero Indorum.

Kajian yang lebih komprehensif tentang kontribusi matematika para ilmuwan Muslim, termasuk si jenius al-Khwarizmi bisa kita baca, misalnya di buku J.L. Berggren, Episodes in the Mathematics of Medieval Islam (New York: Springer, 2016/1986). Khusus tentangnya dicatat kontribusi dan pengaruhnya terhadap perkembangan matematika Barat. Namanya diabadikan sebagai algoritma. Kata ini terus-menerus digunakan dalam ilmu komputasi dan matematika. Algoritma berasal dari penyimpangan pengucapan orang Barat dari al-Khwarizmi yang tulisan Latinnya algorismi.

Dan kini, kita tengah berguncang-guncang dengan bersama komputasi mesin-mesin pintar. Kita tengah sedang dan terus bersama algoritma. Kendati sekadar sedikit yang terkenang-kenang al-Khwarizmi.

 

Penulis : M. Alfan Alfian, Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here