ESSAY | Nadiem Makarim, Teknologi untuk Mendobrak Kesenjangan

63
Tatang Muttaqin Mansyur, Ph.D.

POTRETPENDIDIKAN.COM – Kesenjangan merupakan topik yang selalu hangat sehingga ekonom yang mengajar di Ecole D’Economie De Paris, Thomas Piketty mencurahkan sekitar 15 tahun untuk mengurai kesenjangan sejak 2 abad silam yang terangkum dalam buku bertajuk Capital in the Twenty-First Century (2014).

Setahun kemudian, Robert D. Putnam mendedahkan kesenjangan dengan tajuk yang tak kalah menantang mantra American Dream, di mana semua anak, tanpa melihat latar belakang keluarga dan sosial, punya peluang sama untuk meraih masa depannya. Lewat Our Kids: the American Dream in Crisis Putnam (2015) menunjukkan bahwa peluang meraih mimpi akan masa depan tersebut terbantahkan dari beragam fakta kisah anak kaya dan anak miskin dari beragam kota. Bahkan, kakek Frank dari Port Clinton Ohio bergumam: “If we’re in Cleveland or New York, you can order whatever you want, but when you are in Port Clinton, you do what they can do”.

Pendidikan Pra-Sekolah

Saat menyimak uraian Putnam, pikiran saya malah menerawang masa kecil sekitar 35 tahun silam ketika memulai mencicipi bangku sekolah di SD Inpres Lojisari, sekira 20 km dari pusat kota Garut. Keberhasilan SD Inpres telah mengantarkan pasangan Esther Duflo dan Abhijit Banerjee, serta Michael Kremer diganjar hadiah paling bergengsi dalam ilmu ekonomi, Nobel 2019.

Di antara teman yang pernah menimba ilmu bersama di SD Inpres tersebut, saya hanya bisa bersua dengan beberapa teman lewat media sosial. Artinya, peluang anak kurang mampu apalagi tinggal jauh dari kota Kabupaten untuk mencicipi pendidikan yang lebih tinggi sangat terbatas sehingga kemungkinan terjadinya mobilitas sosial juga terkendala. Mungkin bagi sebagian anak Indonesia, jangankan bermimpi tentang masa depan bahkan membayangkan untuk pendidikan lanjutan sampai sekolah menengah atas-pun mungkin tidak, karena pengkastaan ini sudah dimulai sejak pendidikan usia dini.

Studi Bank Dunia tentang manfaat besar pendidikan pra-sekolah wabilkhusus untuk anak-anak dari keluarga pendapatan rendah memang sangat signifikan apalagi di pra-sekolah formal semisal Taman Kanak-Kanak (TK) atau Busthanul Athfal (BA) dan Raudhatul Athfal (RA). Namun cakupan pendidikan pra-sekolah baru mencapai sepertiga anak Indonesia, tepatnya hanya 34,4 persen anak yang bisa menikmati pendidikan pra-sekolah.

Dengan demikian, sebagian besar anak-anak tak sepenuhnya dibekali kesiapan mental, pengetahuan dan pengalaman serta kesiapan sosial untuk masuk ke sistem persekolahan. Jika tidak dilakukan upaya serius dan cakupan pendidikan anak prasekolah tetap terbatas maka akan memberi dampak lanjutan, mereka yang kurang mampu dan tidak bisa menikmati pendidikan pra-sekolah akan semakin tertinggal dibanding anak lain, sehingga percaya dirinya juga kurang berkembang sebagian ada yang mengulang kelas, bahkan akhirnya dropout dari sekolah.

Sebagian besar lainnya beruntung menyelesaikan SD sekalipun dengan hasil yang pas-pasan, sehingga gagal menikmati kursi SMP/MTs negeri yang relatif lebih berkualitas dan terjangkau. Karena tak lolos seleksi kasta SMP/MTs negeri dan tak mampu masuk swasta berkualitas karena mahal (nonsubsidi), maka mereka melanjutkan ke SMP/MTs swasta yang terjangkau dengan kualitas alakadarnya.

Sebagian bisa melanjutkan ke SMA/SMK/MA namun sulit untuk diterima di sekolah negeri karena persaingan kursi “pasar bebas” apalagi sampai mampu mencicipi nyaman dan murahnya kuliah di PTN. Disinilah Matthew effect lewat akumulasi keberuntungan (cumulative advantage) akan terus berlanjut di mana yang kaya makin jaya dan yang miskin makin papa.

Pendidikan Berkeadilan

Dengan demikian, pendidikan prasekolah sangat penting dalam memastikan kesiapan anak belajar. Dalam konteks Indonesia, temuan Pandia, Widyawati, Yapina, Irwan dan Irwanto (2012) mengkonfirmasi bahwa anak yang mengikuti prasekolah belajar lebih baik pada jenjang persekolahan lebih lanjut.

Dalam jangka panjang meningkatkan keunggulan untuk berkompetisi dalam memperebutkan kursi sekolah jenjang selanjutnya yang makin berkompetisi secara bebas sehingga anak dari keluarga miskin karena tak mampu mengikuti pendidikan prasekolah makin tersisih untuk masuk SMP/MTs favorit, SMA/SMK/MA yang diperebutkan apalagi PTN idaman sehingga sangat kecil peluangnya siswa dari keluarga kurang mampu (kuintil 1 atau 20 persen terbawah) untuk mencicipi PTN favorit sehingga peluang mobilitas sosial makin tipis.

Kecilnya peluang tersebut membuat Raeni, putri Pak Mujiono pengayuh becak mendadak terkenal karena mampu menyelesaikan sarjana dengan IPK hampir sempurna di Jurusan Pendidikan Akuntasi, Universitas Negeri Semarang (UNNES). Seperti sebuah keajaiban, di tahun 2014 sosok Raeni diliput secara massif media cetak dan elektronik bahkan menjadi perhatian Presiden SBY saat itu untuk menjamunya ke istana sekaligus memberikan beasiswa untuk studi lanjut ke Inggris. Fenomena Raeni menjadi luar biasa padahal sejatinya harus biasa, jika merujuk pesan Konstitusi bahwa semua anak bangsa berhak untuk mendapatkan pendidikan.

Singkatnya, alih-alih mampu menjadi wahana untuk memfasilitasi mobilitas sosial, pendidikan telah menjadi kavling-kavling peluang dan harapan untuk anak-anak dari keluarga mampu dan sedikit (kurang dari 1 persen) untuk yang ekonomi pas-pasan, namun memiliki kelebihan yang ruar biasa karena mampu bersaing dengan anak lain yang lebih bergizi, memiliki waktu yang lebih luang bahkan mendapat pengayaan lewat bimbingan belajar dalam kelas-kelas intensif.

Harapan untuk Nadiem Makarim

Di sinilah, pilihan Presiden Jokowi untuk mengangkat anak muda energik dan bertalenta, Nadiem Makarim, menjadi relevan. Saya bahkan membayangkan anak yang lebih muda lagi, seperti Belva dan Iman, founder Ruang Guru layak menjadi Dirjen lewat jalur PPPK. Presiden melihat perlunya terobosan-terobosan dalam mengelola pendidikan di Indonesia, termasuk dalam hal manajerial ratusan ribu sekolah dan sekitar 50 juta pelajar yang tersebar di seluruh Indonesia dengan standar yang sama. Dan peluangnya, ada dalam pemanfaatan teknologi, di mana Nadiem merupakan sosok yang mumpuni di bidang teknologi sehingga diharapkan bisa mewujudkan visi misi Presiden di bidang pendidikan.

Keterujiannya dalam mengembangkan aplikasi GoJek, bisa dilakukan juga dalam mempermudah pembelajaran sehingga bisa membuat lompatan yang dulu dirasa tidak mungkin. Lewat lompatan inilah, mimpi besar SDM Unggul dan Maju bisa menjadi kenyataan. Selanjutnya, tinggal bagaimana birokrat-birokrat Kemdikbud sebagai eksekutor bisa beradaptasi. Semoga…

Oleh: Tatang Muttaqin Mansyur, Ph.D.

Penulis adalah Fellow di Groningen Research Centre for Southeast Asia and ASEAN dan anggota the James Coleman Associations

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here