IBNU SINA (Tokoh Pemikir Pendidikan)

63
Ibnu Sina

potretpendidikan.com – Abu Ali Husain ibn Abdullah ibn Sina adalah nama lengkap Ibnu Sina. Sebagian orang menulis nama ilmuwan yang hidup antara tahun 980-1037 M itu sebagai Avicenna.

Ibnu Sina lahir di Afsyanah, dekat Bukhara (Uzbekistan). Dia mulai belajar Al-Qur’an dan sastra sejak berusia lima tahun. Saat berumur sepuluh tahun Ibnu Sina sudah hafal Al-Qur’an.

Ibnu Sina terkenal dengan pemikirannya sebagai intelektual muslim yang mendapat banyak gelar. Menurutnya, tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh seseorang. Potensi itu tidak hanya menuju pada perkembangan fisik, tapi juga intelektual dan budi pekerti. Selain itu, pendidikan juga harus mampu mempersiapkan seseorang agar dapat hidup bermasyarakat.

Pemikiran dalam hal pendidikan, Ibnu sina juga membagi menjadi berbagai tahapan atau masa-masa: 

1. Masa KanakKanak

Menurut Ibnu Sina, masa kanak-kanak merupakan saat pembentukan fisik, mental, dan moral. Oleh karena itu terdapat tiga hal yang harus diperhatikan: Pertama, anak-anak harus dijauhkan dari pengaruh kekerasan yang bisa mempengaruhi jiwa dan moralnya. Kedua, untuk perkembangan tubuh dan gerakannya, anak-anak harus dibangunkan dari tidur. Ketiga, anak-anak tak diperbolehkan langsung minum setelah makan, sebab makanan itu akan masuk tanpa dicerna terlebih dahulu. Keempat, perkembangan rasa dan perilaku anak-anak perlu diperhatikan.

2. Masa Pendidikan

Pada masa ini, anak-anak sudah berusia antara 6 hingga 14 tahun. Pada masa ini, anak-anak harus mempelajari prinsip kebudayaan Islam dari Alquran, puisi-puisi Arab, kaligrafi, juga para pemimpin Islam. Menurut Ibnu Sina, pendidikan pada masa ini harus dilakukan dalam kelompok-kelompok, bukan perseorangan. Sehingga siswa tidak merasa bosan. Selain itu, mereka bisa belajar mengenai arti persahabatan. Selain itu juga Pelajaran membaca dan menghafal menurut Ibnu Sina berguna di samping untuk mendukung pelaksanaan ibadah yang memerlukan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, juga untuk mendukung keberhasilan dalam mempelajari agama islam seperti pelajaran Tahfidz Al-Qur’an, Fiqh, Tauhid, Akhlak dan pelajaran agama lainnya yang sumber utamanya Al-qur’an.

3. Masa 14 Tahun Ke Atas

Pada masa remaja ini, mereka dipersiapkan untuk mempelajari tipe pelajaran tertentu supaya memiliki keahlian khusus. Selain itu, mereka harus mempelajari pelajaran yang sesuai dengan bakat mereka. Mereka juga tidak boleh dipaksa untuk mempelajari dan bekerja di bidang yang tidak mereka inginkan dan mereka pahami. Namun pelajaran dasar harus diberikan kepada mereka.

Ibnu Sina menganggap pendidikan pada anak-anak maupun remaja harus diberikan karena pendidikan itu memiliki hubungan yang erat antara pemenuhan kebutuhan ekonomi dan sosial. Yang paling penting, setiap pelajar harus menjadi seorang ahli dalam bidang tertentu yang akan mendukung pekerjaannya di masa depan.

Ibnu sina mewajibkan kepada pendidik anak-anak, supaya menjauhkan anak-anak dari kelakuan yang keji dan adat-adat kebiasaan yang buruk dengan mempertakuti dan menginginkan, dengan memuji sekali dan memarahi sekali, yaitu selama yang demikian itu mencukupi. Kalau membutuhkan mempergunakan tangan, maka hendaklah pergunakan.

Pandangan Ibnu sina tentang pendidikan

Ibnu Sina banyak memberikan saham dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan islam, yang amat berharga sekali dan tidak kecil pengaruhnya terhadap pendidikan islam dewasa ini, pandangan ibnu sina terhadap pendidikan (sistem) meliputi sebagai berikut:

A. Pendidikan keterampilan untuk mempersiapkan anak mencari penghidupan.

Ibnu sina  mengintegrasikan antara nilai-nilai idealitas dengan pandangan pragmatis, sebagaimana yang dia katakan : “jika anak telah selesai belajar Al-Qur’an dan menghapal dasar-dasar gramatika, saat itu amatilah apa yang ia inginkan mengenai pekerjaannya, maka arahkanlah ia ke jalan itu. Jika ia menginginkan menulis maka hubungkanlah dengan pelajaran bahasa surat-menyurat, bercakap-cakap dengan orang lain serta berbincang-bincang dengan mereka dan sebagainya. Kalau problem matematika, maka caranya harus mengerjakan bersamanya, membimbing dan menulisknnya. Dan jika ia ingin yang lain, maka bawalah ia kesana”.

Pendidikan yang bersifat keterampilan yang ditujukan pada pendidikan seperti bidang perkayuan, penyablonan dan sebagainya. Sehingga akan muncul tenaga-tenaga pekerja yang professional yang mampu mengerjakan pekerjaan secara professional. Dengan demikian apa yang dikatakan oleh Ibnu sina itu jelas menunjukkan bahwa umat islam sejak dulu telah mengetahui tujuan pendidikan/pengajaran. Oleh karena itu hendaknya mereka mengarahkan pendidikan anak-anak kepada apa yang menjadikan mereka baik, lalu menuangkan pengetahuan mereka ke dalam prinsip-prinsip yang ditetapkan yang bersifat khusus seperti yang dianjurkan oleh pendidikan modern.

B. Kurikulum tingkat awal untuk meningkatkan mutu pendidikan anak.

Secara sederhana istilah kurikulum digunakan untuk menunjukkan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai satu gelar atau ijazah. Pengertian ini sejalan dengan pendapat Crow dan Crow yang mengatakan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematik yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.

Pendapat Ibnu Sina tentang masalah ini sangat terkenal : yaitu “sebaiknya diawali dengan mengajarkan Al-Qur’anulkarim tapi dengan cara menghindarkan pengajaran yang bersifat memberatkan jasmani dan akal pikirannya. Dalam hal ini Ibnu Sina sepakat bahwa, “pada waktu mengajarkan Al-Qur’an anak juga diajarkan huruf-huruf hijaiyah dan beberapa ilmu lainnya, kemudian diperkenalkan syair-syair yang dimulai dari cerita anak-anak.

Strategi pembentukan kurikulum Ibnu Sina tampak sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang terdapat dalam dirinya. Pengalaman pribadinya dalam mempelajari berbagai macam, ilmu dan keterampialan ia coba tuangkan dalam konsep kurikulumnya. Dengan kata lain, ia menghendaki agar setiap orang yang mempelajari berbagai ilmu dan keahliaan menempuh sebagaimana cara yang ia lakukan.

Berdasarkan uraian diatas Ibnu sina mengemukakan prinsip-prinsip pendidikan yaitu:

1.  Jangan memulai pengajaran Al-Qur’an kepada anak melainkan setelah anak mencapai tingkat kematangan akal dan jasmaniah yang memungkinkan dapat menerima apa yang diajarkan.

2.  Mengintegrasikan antara pengajaran Al-Qur’an dengan huruf hijaiyah, yang memperkuat pandangan pendidikan modern saat ini yaitu dengan metode campuran antara metode analitis dan strukturalitis dalam mengajar membaca dan menulis (merupakan metode paling baru dalam pengajaran bahasa  kepada anak-anak saat ini).

3.  Kemudian anak diajar agama pada waktu tingkat kematangan yang mantap dimana menurut adat kebiasaan hidup keagamaan yang benar telah terbuka lebar sampai dapat menyerap ke dalam jiwanya dan mempengaruhi daya indrawi serta perasaannya.

4.  Ibnu Sina juga memandang penting pelajaran syair sehingga syair itu menjadi sarana pendidikan perasaan. Pelajaran ini dimulai dari mengajarkan syair-syair yang menceritakan anak-anak  yang glamaour, sebab lebih mudah dihafal dan mudah menceritakannya.

5.  Pengajaran yang diarahkan pada penulisan minat dan bakat pada masing-masing anak didik, sehingga mereka mampu menciptakan kreativitas belajar secara lebih mantap. hal ini sesuai dengan yang dianjurkanoleh kurikulum modern saat ini. Anak harus diajar tentang pengetahuan umum yang bersifat dharuriyah, sehingga terbukalah bakat dan kemampuannya yang pada saat ini memungkinkan anak dapat mengenal kecenderungan-kecenderungannya.

6.  Selanjutnya Ibnu Sina sangat memperhatikan segi akhlak dalam pendidikan, yang menjadi fokus perhatian dari seluruh pemikiran filsafat pendidikan yaitu mendidik anak dengan menumbuhkan kemampuan beragama yang benar. Oleh karena itu pendidikan agama memang merupakan landasan bagi pencapaian tujuan pendidikan akhlak. (Dikutip Dari Berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here