Jebolan LPTK Banyak Nganggur Atau Pilih Jadi Guru Honorer

64
Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI

potretpendidikan.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. mengungkapkan, lulusan guru dari Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) setiap tahunnya terus bertambah.

Padahal kebutuhan pendidik atau guru tidak sebanyak jumlah lulusan LPTK. Akibatnya banyak lulusan LPTK yang menganggur atau memilih menjadi guru honorer.

“Suplai dan demand guru tidak imbang. Tiap tahun LPTK meluluskan 350 ribu guru. Sementara kebutuhan guru maksimal 150 ribu. Berarti ada kelebihan 200 ribu guru setiap tahunnya,” ujar Muhadjir, Jumat (23/8).

Kondisi ini tengah menjadi perhatian pemerintah. Kemendikbud sedang membahas masalah LPTK dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Bagaimana agar LPTK menyesuaikan kebutuhan guru dengan rekrutmen mahasiswanya agar tidak mubazir.

“Saya sudah minta Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) untuk mengatur tata kelola guru. Semuanya dari guru PAUD hingga pendidikan menengah dirapihkan datanya,” tuturnya.

Selain hal tersebut pemerintah sedang merancang kerja sama dengan Kemenristekdikti tentang kualifikasi dan jumlah guru yang dibutuhkan. Jangan samai terjadi kelebihan karena akan berpengaruh pada kualitas guru. Itu sebabnya harus ada koordinasi dengan universitas sebagai pencetak guru.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D. ikut menyoroti banyaknya lulusan guru yang menganggur. Ini lantaran LPTK tidak membatasi jumlah mahasiswanya. Banyak calon mahasiswa yang gagal masuk perguruan tinggi pilihannya, terpaksa mendaftar LPTK hanya demi status meski tidak sesuai minat atau pilihannya.

“Menjadi guru harusnya panggilan hati dan bukan karena pilihan ketiga atau keempat. Kalau bukan karena minat atau pilihannya, guru yang akan dihasilkan mutunya jelek,” katanya.

Ali Ghufron menantang LPTK untuk berani membatasi jumlah mahasiswa yang masuk. Dengan cara memperketat seleksi agar yang menjadi mahasiswa LPTK benar-benar orang pilihan. Dengan demikian guru yang dihasilkan juga berkompetensi tinggi.

Di lain hal Ali Ghufron menyadari, LPTK bisa hidup dari mahasiswanya. Jika dibatasi otomatis akan memengaruhi fiskal LPTK. (AP/potret)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here