MGMP Dijatah 23 Juta Oleh Kemendikbud

85
Dr. Supriano, M.Ed. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). (Dok. Kemendikbud)

potretpendidikan.com -Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan anggaran sebesar Rp23 juta, untuk setiap kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di seluruh kabupaten/kota.

Dilansir dari Jurnas, Dana tersebut menurut Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dr. Supriano, M.Ed., dapat dimanfaatkan untuk setiap kali penyelenggaraan pelatihan, yang mulai tahun ini akan berbasis pada zona.

“Pelatihan berbasis zona ini akan dikasih dana stimulus. Besarnya Rp. 23 juta per kelompok kerja guru. Dikasihnya satu kali, Rp. 23 juta itu termasuk transportasi dan makan untuk lima kali pertemuan,” kata Supriano usai membuka kegiatan GTK Berprestasi dan Berdedikasi, di Jakarta, pada Selasa (13/8) malam.

Dia mengakui, jumlah Rp. 23 per kelompok guru masih terbilang kecil. Pasalnya, dana tersebut harus dibagi dalam lima kali pelatihan yang dilakukan selama 82 jam, di mana setiap kelompok guru beranggotakan sekitar 20 orang.

Kendati minimnya dana per kelompok guru, Supriano tetap optimistis pelatihan guru berbasis zona akan berjalan sebagaimana yang direncanakan pemerintah.

Dia menyebut, pelatihan guru MGMP yang menggunakan metode 5 in dan 3 on, akan menciptakan knowledge sharing, coorporatitive learning, action research, lesson study, kominikasi, kolaborasi, dan critical thinking.

“Kalau dibayangkan sekarang jumlah zona ada 2.580. Kalau satu zona dikali 10 MGMP mata pelajaran (mapel) akan ada 25.800 MGMP. Kemudian dikali 10 guru saja bisa ada 258.000 guru. Bayangkan kalau dikali 20 guru, akan ada 500.000-an guru yang belajar,” terang Supriano

Untuk pengawasan Supriano mengatakan Kemendikbud, akan melihat keaktifan guru berdasarkan kehadirannya dalam lima kali pelatihan MGMP. Berbeda halnya dengan pelatihan MGMP sebelumnya yang hanya dilakukan sebanyak satu kali.

“Guru yang tidak aktif ketahuan di grup mereka. Kalau sekarang, kontrol bisa dilakukan mereka sendiri,” tutur dia.

Pelatihan dengan metode 5 in dan 3 on menuntut guru untuk terlibat dalam lima kali pelatihan dan tiga kali praktik pembelajaran di kelas. Konsekuensi dari pelatihan ini, menurut Supriano, ialah pemecahan masalah mapel di masing-masing zona akan berbeda satu sama lain

“Misalnya masalah di sekolah kamu sama masalah di sekolah saya berbeda. Di sekolah kamu masalahnya aritmatika, tapi sekolah saya aljabar. Itu yang kemudian didiskusikan,” ujar dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here