OPINI | 7 Dosa Dosen Terhadap Mahasiswa Bimbingannya

83
Ilustrasi Mahasiswi Bimbingan Skripsi (foto. widyatama.ac.id)

POTRETPENDIDIKAN.COM – Hubungan antara dosen dengan mahasiswa seringkali seperti hubungan antara atasan dan bawahan bahkan kadang-kadang bisa-bisa seperti hubungan majikan dengan pembantu.

Tidak sedikit dosen yang menganggap mahasiswanya makhluk kecil tak berarti yang hidupnya bisa dihitamputihkan oleh sang dosen. Banyak dosen yang komplain mengenai rendahnya kemampuan  mahasiswa bimbingannya.

Sang dosen kerap beranggapan harusnya mahasiswa itu pantang menyerah seperti dia. Padahal latarbelakang hidup seseorang tidaklah sama. Si mahasiswa mungkin biasa hidup nyaman sedangkan si dosen bisa jadi sebaliknya.

Hubungan antara pembimbing skripsi dengan mahasiswa bimbingannya juga tidak jauh beda. Bahkan lebih parah. Acapkali terjadi salah paham atau salah persepsi mengenai proses bimbingan skripsi. Baik itu di tingkat S1, S2 (tesis) bahkan S3 (disertasi) sekalipun.

Tidak sedikit yang mengeluh sulitnya berurusan dengan dosen pembimbingnya. Mahasiswa merasa dipersulit sedangkan dosen merasa mahasiswa terlalu manja.

Banyak dosen yang merasa harusnya semua mahasiswa bimbingannya punya karakter seperti sang dosen yakni rajin membaca, berpikiran kritis, dan pantang menyerah.

Mereka ingin memberi pelajaran penting bagi mahasiswa bimbingannya tersebut bahwa menulis skripsi bukanlah perkara mudah. Banyak hal yang harus mereka pahami mulai dari cara penulisan, pemahaman tentang metodologi serta teori tertentu.

Di sisi lain, mahasiswa, khususnya yang masih S1 menganggap skripsi hanyalah tugas akhir biasa dan dia ingin segera lepas dari beban tersebut.

Bahkan mereka rela mempeoleh nilai terendah sekalipun asalkan lulus dan bisa segera diwisuda. Tidak sedikit kasus di mana mahasiswa telat menyelesaikan studinya karena proses bimbingan skripsi yang berlarut-larut.

Bahkan kemudian ada yang sampai menyerah hingga drop out. Atau ada juga yang mencari jalan pintas dengan membayar orang lain untuk mengerjakannya.

Ini adalah masalah yang kompleks. Banyak faktor penyebabnya mengapa mahasiswa sering frustasi dalam mengerjakan tugas akhir bernama skripsi tersebut. Sebagian memang kesalahan dari mahasiswa yang lalai serta malas.

Tapi tidak sedikit penyebabnya adalah dosen pembimbing yang berwatak jahat. Berikut tujuh kesalahan atau dosa yang sering dilakukan seorang dosen pembimbing skripsi terhadap mahasiswa bimbingannya :

1. Tidak membuat kesepakatan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh mahasiswa.

Pada pertemuan awal ketika mulai bimbingan seharusnya seorang dosen menjelaskan aturan penulisan skripsi serta bagaimana beliau ingin diperlakukan. Ini sangat penting agar tercipta saling pengertian.

Jika tidak, akan terjadi banyak kesalahpahaman atau miskomunikasi lantaran tidak ada kesepakatan awal yang jelas. Harusnya seorang dosen pembimbing skripsi menjelaskan aturan main yang jelas di awal bimbingan.

Misalnya; Kapan waktu yang tepat untuk bimbingan rutin, Apakah boleh dihubungi melalui sms, WA, atau telpon langsung, Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa skripsi mahasiswa.

Bila ini dilakukan. Insya Allah proses bimbingan akan berjalan lacar karena adanya saling pengertian.

2. Sulit dihubungi. Ke kampus jarang, telpon tidak diangkat, di sms tidak dibalas, diemail apalagi.

Ini salah satu dosa besar dosen pembimbing. Si mahasiswa sudah bolak balik ke kampus setiap hari hanya untuk menunggu kehadiran sang dosen. Namun yang ditunggu tak kunjung datang. Sudah dihubungi berkali-kali tidak ada respon.

Didatangi ke rumah tidak boleh dengan alasan urusan kampus harus di kampus. Jelas ini membuat mahasiswa yang bersangkutan putus asa. Begitu ketemu, sang dosen langsung marah-marah karena merasa diintimidasi dengan menghubunginya berkali-kali.

Mestinya ini tidak perlu terjadi bila ada komitmen awal tentang bagaimana cara berkomunikasi di antara kedua belah pihak.

3. Tidak serius memeriksa skripsi mahasiswa.

Masalah ini juga kerap terjadi. Mungkin karena beban kerja yang banyak, dosen terkesan asal-asalan memeriksa skripsi mahasiswa. Apalagi dosen dengan lebih dari 10 mahasiswa bimbingan setiap semesternya. Belum lagi beban kerja lain seperti penelitian sang dosen atau menulis jurnal serta mengajar di banyak tempat.

Akibatnya, ketika seminar proposal, kelihatan sekali banyak kesalahan sederhana yang terjadi dan terkesan dibiarkan oleh dosen pembimbing.

4. Tidak jelas memberikan instruksi dalam komentar skripsinya.

Masalah berikutnya adalah tidak jelasnya dosen pembimbing memberikan komentar pada skripsi mahasiswa. Coretan pada skripsi sulit dibaca. Ada banyak tanda tanya sementara mahasiswa tidak mengerti maksud tanda tanya tersebut.

Apalagi dosen hanya memberikan langsung draft skripsi hasil coretannya tanpa sempat menjelaskan. Keesokan harinya ketika ditanya sang dosen menjawab “Cari sendiri saja maksudnya. Belajar mandiri. Kamu sudah mahasiswa. Jangan terlalu manja.”

5. Plin plan, tidak konsisten dengan saran yang diberikan. Awalnya dibilang A, kemudian berubah menjadi C terus tiba-tiba jadi D. Dan ujung-ujungnya kembali ke A.

Dosa ini tidak jarang terjadi. Sang dosen tidak konsisten. Awalnya memberi saran begini. Kemudian lupa telah memberi saran apa lalu berubah menjadi begitu. Setelah diubah mahasiswa sesuai saran, tiba-tiba disuruh lagi ke saran awal. Bisa dibayangkan betapa bingungnya mahasiswa.

Apalagi antara pembimbing skripsi utama dan pembimbing skripsi pendamping saling tidak sepakat. Atau bahkan terkesan sangat bertantangan. Jadilah mahasiswa merasa sebagai makhluk paling malang di planet bumi ini.

6. Menyuruh mengganti topik dengan tiba-tiba padahal sudah lama bimbingan sehingga mahasiswa harus mengulang dari awal.

Ada juga yang cukup parah. Setelah hampir satu semester menghabiskan waktu dan pikiran untuk bimbingan, sang dosen dengan santainya menyuruh mahasiswa mengubah topik skripsi. Baik sebagian ataupun seluruhnya. Ini sungguh-sungguh musibah besar bagi mahasiswa.

Sebab dia akan mengulang dari awal lagi dan tentunya tidak mudah karena secara psikologis si mahasiswa sudah down semangatnya. Tidak sedikit yang mundur kemudian berakhir dengan DO.

7. Ikut-ikutan mengeroyok mahasiswa bimbingannya pada saat seminar proposal atau ujian skripsi.

Ini paling lucu bin aneh. Ada dosen ikut-ikutan menyalahkan mahasiswanya ketika seminar proposal atau bahkan sidang skripsi. Alih-alih membantu dan membela mahasiswa bimbingannya sendiri, sang dosen justru membuat malu mahsiswa di depan dosen penguji. Kasihan si mahasiswa. Sudah jatuh, tertimpa ember pula. Dosen seperti ini bikin gemes. Enaknya dilempar aja pakai granat.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menjelekkan profesi dosen. Ini adalah instrospeksi diri. Beberapa kali saya melihat ada mahasiswa yang punya potensi akademik, harus menyerah dengan dosen berperilaku buruk seperti di atas.

Cerita di atas bukan dongeng. Banyak sekali terjadi dalam kenyataan. Tapi dosen yang betul-betul berdedikasi juga tidak sedikit. Jauh lebih banyak dari mereka yang disebutkan dalam tulisan ini.

Menulis skripsi hanyalah tugas akhir dalam perjalanan studi seorang mahasiswa S1. Mereka telah menjalani 7 semester dengan ratusan kredit SKS. Fungsi skripsi selain melatih berpikir kritis dan banyak membaca, juga melatih menghargai karya orang lain serta melatih kejujuran. Namun terlalu berlebihan dalam membimbing juga kurang patut menurut saya.

Seringkali mahasiswa bukan seperti apa yang kita pikirkan. Belum tentu sikap berlebihan dosen akan bermanfaat bagi mahasiswa. Justru bisa jadi sebaliknya. Mereka jadi antipati terhadap skripsi dan menganggap sebagai hantu yang menakutkan.

Seorang teman justru mengusulkan agar skripsi ditiadakan. Diganti dengan ujian komprehensif. Atau dijadikan sebagai pilihan saja. Atau mahasiswa diminta menulis makalah tanpa bimbingan. Beliau menilai menulis skripsi lebih banyak mudaratnya dibanding manfaat. Khususnya untuk mahasiswa S1.

Di sisi lain, dosen terlalu terbebani dengan administrasi kampus, penelitian, pengabdian, pengajaran, penulisan jurnal dan lain-lain. Apalagi sang dosen harus membimbing belasan mahasiswa dalam satu semester. Sehingga hasilnya banyak yang tidak maksimal.

Tentu tidak semua dosen pembimbing skripsi berperilaku buruk. Sebagian besar justru mendedikasikan cukup waktu serta pengetahuannya kepada mahasiswa bimbingannya.

Bahkan ada juga dosen yang dengan sukarela meminjamkan buku-bukunya atau mengarahkan mahasiswa bimbingannya untuk mencari buku-buku tertentu untuk dibaca.

Tidak sedikit yang menghubungi mahasiswa bimbingannya untuk menanyakan sampai dimana progress skripsinya. Saya sendiri pernah ditelpon pembimbing saya untuk bertemu beliau segera.

Ini PR kita semua. Jangan sampai tujuan penulisan skripsi berubah menjadi malapetaka bagi dosen maupun mahasiswa sementara manfaat yang diharapkan justru tidak didapatkan.

Bagi pembaca yang saat ini sedang menulis tugas akhir skripsi, tesis ataupun tugas akhir, banyak-banyaklah berdoa agar Allah SWT melunakkan hati dosen pembimbing Anda sehingga proses penulisan penelitian Anda berjalan lancar.

Penulis : Yanto, S.Pd., M.Ed. (Dosen FKIP Universitas Jambi

Sumber : Kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here