OPINI | Milenial dan Pentingnya Guru Imajinatif

64

potretpendidikan.com – Beberapa perusahaan multinasional seperti Google, Apple, dan IBM tidak lagi membutuhkan pelamar untuk memiliki gelar sarjana. Dalam merekrut karyawan misalnya, IBM merekrut kandidat yang memiliki pengalaman langsung melalui kelas coding atau kelas kejuruan terkait industri. Industri masa depan membutuhkan kandidat yang unik, bukan hanya lulusan yang dicetak sama, yang cukup diukur dengan selembar ijazah.

Studi Departemen Pendidikan dan Dewan Studi Seni Colorado (2008) menunjukkan bahwa dalam ekonomi global, lulusan dengan keterampilan dalam imajinasi, kreativitas dan inovasi akan sangat dicari oleh para pemberi kerja. Cunningham (2015) menegaskan bahwa imajinasi akan memberikan kapasitas jangka panjang pada siswa/mahasiswa untuk membayangkan berbagai kemungkinan, untuk membedakan dan membuat penilaian, untuk terlibat dan memahami dunia yang aneh dan berubah, untuk menghargai alam dan seni, dan untuk membuat makna dan bentuk baru ide, yang saling terintegrasi menjadi seni untuk hidup (art of living). Dan ketika lembaga pendidikan tidak meletakkan fondasi imajinasi yang demikian, maka sebagian siswa atau anak muda memilih untuk mundur dan memilih jalan berbeda.

Imajinasi beberapa anak muda yang terkekang dengan batasan akademis, dengan imajinasi yang membawa pikiran mereka lebih maju daripada mahasiswa normal lainnya, sebutlah Zuckerberg (pendiri facebook), Koun (pendiri Whatsapp), dan Dorsey (Twitter) hanya beberapa mahasiswa yang memutuskan putus kuliah pada saat produk teknologi mereka belum berkibar seperti saat ini.

Era milenial menjadi lompatan dalam dunia pendidikan, bahwa pendidikan tidak sekadar menjadi sekadar berpendidikan namun tersesat setelah ijazah didapat. Lembaga pendidikan harus lebih memikirkan bagaimana mempersiapkan generasi berikutnya beradaptasi dengan dunia dan pekerjaan-pekerjaan yang baru, yang jauh berbeda dari era sebelumnya.
Pergeseran era industri menuju era berbasis ekonomi pengetahuan (knowledge-based economy) pada awal abad ke-21 menjadi penanda betapa semakin strategisnya bidang pendidikan.

Hal ini menjadi lebih baik apabila dikaitkan dengan berkah demografi Indonesia. Pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Dalam mengakomodir jumlah penduduk usia produktif tersebut, perlu perspektif lebih lebar dan jauh ke depan agar pemerintah tidak keliru mengambil kebijakan. Peter Thiel dalam bukunya Zero to One (2014) mengingatkan untuk tidak meniru orang-orang sukses dengan penemuannya di masa sebelumnya. Menurut Thiel, Bill Gates selanjutnya tidak akan membuat sistem operasi komputer, Larry Page dan Sergey Brin berikutnya tidak akan menciptakan search engine, dan Mark Zuckerberg yang baru tidak akan membuat jejaring sosial. Jika kita menirunya, maka itu mengartikan kita tidak belajar darinya. Disinilah peran imajinasi dibutuhkan untuk keluar dari batasan normal yang telah diciptakan penemu sebelumnya. Menjadi otentik itu penting, dan mulai meninggalkan budaya “copas” (copy paste) atau sekadar menjadi follower apatis.

LPTK Masa Depan

Lembaga pencetak guru bernama LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) untuk itu tidak dapat berdiri sendiri dan menegaskan dirinya sebagai satu-satunya lembaga yang memproduksi guru, tanpa memikirkan bahwa kompetensi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang dan terintegrasi satu sama lain. LPTK perlu bermitra dengan lembaga yang mengusung dan mendukung platformnya, mendidik anak bangsa. Imajinasi guru perlu dibekali pula dengan kompetensi lainnya: kompetensi mendidik, kompetensi merancang media pembelajaran, kompetensi komunikasi, dan kompetensi lainnya, yang secara paralel mendukung profesinya.

Kreativitas dan inovasi yang penuh keterbukaan seharusnya membuat LPTK mampu mengembangkan sisi kreatif dan inovatif calon guru ataupun mahasiswa. Secara mentalitas, keberadaan LPTK akan sangat menentukan pembangunan SDM di Indonesia, karena daya pijak LPTK juga menjangkau guru-guru anak usia dini. Secara holistik, memperbincangkan SDM maka harus memikirkan anak sejak dari dalam kandungan hingga nanti menjadi lansia.
RPJMN 2020-2024, dunia pendidikan akan memainkan peran sangat sangat vital. Mempersiapkan SDM harus dimulai dari bagaimana LPTK mampu berinovasi dalam mendidik calon guru dan guru. Dengan determinasi teknologi digital yang sedemikian massif, maka LPTK sudah selayaknya memiliki beberapa pembaruan dalam mengakomodir tantangan dan permasalahan baru di bidang pendidikan guru.

Daya imajinasi guru akan membuka potensi siswa yang masih tersembunyi. Cunningham (2015) menemukan bahwa pengajaran imajinatif dapat melibatkan 1) rasa hormat kepada subjektivitas dan sifat bawaan siswa untuk dijelajahi; 2) kelonggaran ruang bagi siswa untuk menggunakan indera dan kemampuan interpretatif mereka; 3) memberikan batasan serius bagi siswa untuk mendorong, menentang dan melepaskan diri dari pemikiran dan tindakan konvensional; dan 4) pembelajaran kolaboratif yang mengembangkan apresiasi empatik untuk berbagai perspektif.

Sebagaimana anak-anak, imajinasi mampu menaklukkan ketidakberdayaan logika. Einstein mengungkapkan bahwa logika hanya membawamu dari A ke B, namun imajinasi akan membawamu kemana-mana. Tidak ada yang berpikir, orang mampu berkomunikasi jarak jauh beberapa abad silam atau penemuan pesawat terbang hingga kapal selam, bahwa yang membawa peradaban manusia hingga ke titik paling maju, bukanlah kemampuan logika, tapi peran imajinasi yang melampaui zaman.
Impian Bill Gates satu komputer ada di satu rumah sudah terealisasi, aplikasi whatsapp yang sudah digunakan 1,5 milyar orang, dan ke depan, masih banyak celah bagi bangsa ini untuk berkontribusi dan bermanfaat bagi sesama, dan LPTK berperan besar menghasilkan guru-guru imajinatif di masa depan yang senang berbincang dan menantang diri dan siswanya untuk mengimplementasikan ide-ide baru yang aneh dan dianggap tidak logis.

Penulis : Muhammad Ivan (Mahasiswa Doktoral Kriminologi Universitas Indonesia.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here