Strategi Perguruan Tinggi Islam Hadapi Era Revolusi Industri 4.0

49
Annual International Conference On Islamic Studies (AICIS) 2019. Foto: Kemenag/Dok. Humas

POTRETPENDIDIKAN.COM, Jakarta – Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memiliki strategi untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 atau kerap disebut era disrupsi teknologi.  Era disrupsi menjadi sebuah keniscayaan, perubahan juga terjadi sangat cepat dan dirasakan di seluruh lini kehidupan, termasuk bidang pendidikan.

Rektor IAIN Kendari, Faizah mengatakan, strategi pertama yang bisa dilakukan adalah meningkatkan spiritual imun mahasiswa. “Dengan memberikan motivasi kepada mahasiswa, melakukan komunikasi dan memberikan bimbingan konseling,” kata Faizah dalam dialog Annual International Conference On Islamic Studies (AICIS) 2019, seperti dikutip dalam rilisnya, Jumat, (4/10).

Peningkatan etos belajar, disebut juga sebagai salah satu strategi yang bisa diterapkan di PTKIN. “Menghadapi tantangan era disrupsi, mahasiswa perlu dimotivasi untuk meningkatkan kemauan belajarnya,” ujar Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amany Lubis.

Kemudian guna peningkatan kemauan belajar, Rektor IAIN Bukit Tinggi Ridha Ahida menambahkan, perlu didukung oleh penguatan literasi digital.  Selain itu, kata Ridha, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki sivitas akademika PTKIN perlu dibingkai dalam ketaatan pada kode etik.

“Seluruh sivitas akademika, harus taat dengan peraturan tersebut. Baik mahasiswa, dosen, ataupun lainnya,” ujar Ridha.

Pada kesempatan yang sama, Rektor IAIN Ponorogo, Maryam Yusuf menyampaikan bahwa karakter baik menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari mahasiswa. Menurutnya, jika karakter baik tak dibarengi manusia dalam kemajuan digital ini tentu dampak negatifnya membahayakan.

“Kemajuan digital harus dibarengi pembentukan karakter baik,” papar Maryam.

Ia mencontohkan, ada orang yang melakukan pencurian bank melalui digital dengan harta yang diambil berjumlah sangat banyak. Ini disebabkan meskipun memiliki kemampuan yang mumpuni, orang tersebut tidak memiliki karakter pribadi yang baik.

Maryam menyatakan, bahwa sufi atau tasawuf menjadi salah satu alternatif dalam menangkal karakter negatif sekaligus meningkatkan karakter positif mahasiswa di tengah arus globalisasi yang begitu derasnya mengalir di era digital ini. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here